<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Asfin Nge-Blog &#187; Cerita Bijak</title>
	<atom:link href="http://asfin.balikpapanweb.net/category/cerita-bijak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://asfin.balikpapanweb.net</link>
	<description>Uneg Uneg dan Isi Pikiran</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Dec 2011 08:56:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Garam &amp; Telaga</title>
		<link>http://asfin.balikpapanweb.net/2009/08/garam-telaga/</link>
		<comments>http://asfin.balikpapanweb.net/2009/08/garam-telaga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 13:43:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asfin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Bijak]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asfin.balikpapanweb.net/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan.<br />
&#8220;Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..&#8221;, ujar Pak tua itu.<br />
&#8220;Pahit. Pahit sekali&#8221;, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping. Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu.<br />
&#8220;Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu,<br />
Pak Tua berkata lagi, &#8220;Bagaimana rasanya?&#8221;.<br />
&#8220;Segar&#8221;, sahut tamunya.<br />
&#8220;Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?&#8221;, tanya Pak Tua lagi.<br />
&#8220;Tidak&#8221;, jawab si anak muda.<br />
Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.<br />
&#8220;Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.&#8221;<br />
Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. &#8220;Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.&#8221;<br />
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan &#8220;segenggam garam&#8221;, untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asfin.balikpapanweb.net/2009/08/garam-telaga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Titip Ibuku Yaa ALLAH&#8230;&#8230;&#8230;</title>
		<link>http://asfin.balikpapanweb.net/2009/02/titip-ibuku-yaa-allah/</link>
		<comments>http://asfin.balikpapanweb.net/2009/02/titip-ibuku-yaa-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Feb 2009 04:28:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asfin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Bijak]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Umum]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bijak]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[child]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua]]></category>
		<category><![CDATA[parent]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asfin.balikpapanweb.net/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[&#8221; Nak, bangun&#8230; udah adzan subuh. Sarapanmu udah ibu siapin di meja&#8230;&#8221;
Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat. Kini usiaku sudah kepala 3 dan aku jadi seorang karyawan disebuah Perusahaan Pertambangan, tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah.
&#8221; Ibu sayang&#8230; ga usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku udah dewasa&#8221; pintaku pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8221; Nak, bangun&#8230; udah adzan subuh. Sarapanmu udah ibu siapin di meja&#8230;&#8221;<br />
Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat. Kini usiaku sudah kepala 3 dan aku jadi seorang karyawan disebuah Perusahaan Pertambangan, tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah.</p>
<p>&#8221; Ibu sayang&#8230; ga usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku udah dewasa&#8221; pintaku pada Ibu pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Pun ketika Ibu mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya. Ingin kubalas jasa Ibu selama ini dengan hasil keringatku.<br />
<span id="more-112"></span><br />
Raut sedih itu tak bisa disembunyikan. Kenapa Ibu mudah sekali sedih ?<br />
Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena dari sebuah artikel yang kubaca &#8230;<br />
orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak &#8230;..<br />
tapi entahlah&#8230;.<br />
Niatku ingin membahagiakan malah membuat Ibu sedih. Seperti biasa, Ibu tidak akan pernah mengatakan apa-apa</p>
<p>Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya,</p>
<p>&#8221; Bu, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan Ibu. Apa yang bikin Ibu sedih ? &#8221;<br />
Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada genangan air mata di sana. Terbata-bata Ibu berkata,</p>
<p>&#8221; Tiba-tiba Ibu merasa kalian tidak lagi membutuhkan Ibu. Kalian sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kalian, Ibu tidak bisa lagi jajanin kalian. Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri &#8221;</p>
<p>Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan.</p>
<p>Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.<br />
Diam-diam aku bermuhasabah. ..<br />
Apa yang telah kupersembahkan untuk Ibu dalam usiaku sekarang ?<br />
Adakah Ibu bahagia dan bangga pada putera putrinya ?<br />
Ketika itu kutanya pada Ibu, Ibu menjawab,</p>
<p>&#8221; Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Ibu. Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan. Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ibu. Kalian berprestasi di pekerjaan adalah kebanggaan buat Ibu. Setelah dewasa, kalian berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat Ibu. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua.&#8221;</p>
<p>Lagi-lagi aku hanya bisa berucap, &#8221; Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada Ibu. Masih banyak alasan ketika Ibu menginginkan sesuatu. &#8221;<br />
Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang wanita karier seharusnya banyak alasan<br />
yang bisa dilontarkan Ibuku untuk &#8220;cuti&#8221; dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu.<br />
Tapi tidak! Ibuku seorang yang idealis. Menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3 dinihari Ibu bangun dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh Ibu ke dapur menyiapkan sarapan<br />
sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi&#8230;<br />
Ah, maafin kami Ibu &#8230; 18 jam sehari sebagai &#8220;pekerja&#8221; seakan tak pernah membuat Ibu lelah..<br />
Sanggupkah aku ya Allah ?</p>
<p>&#8221; Nak&#8230; bangun nak, udah azan subuh .. sarapannya udah Ibu siapin dimeja.. &#8221;<br />
Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul Ibu sehangat mungkin,kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan,</p>
<p>&#8221; Terimakasih Ibu, aku beruntung sekali memiliki Ibu yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan Ibu&#8230;&#8221;.<br />
Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. ..<br />
Cintaku ini milikmu, Ibu&#8230;<br />
Aku masih sangat membutuhkanmu. ..<br />
Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..</p>
<p>Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat&#8221;aku sayang padamu&#8230; &#8220;,</p>
<p>namun begitu, Rasulullah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai karena Allah.</p>
<p>Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita &#8230;<br />
Ibu dan ayah walau mereka tak pernah meminta dan mungkin telah tiada. Percayalah.. . kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia.</p>
<p>Wallaahua&#8217;lam &#8230;</p>
<p>&#8220;Ya Allah, cintai Ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan ibu&#8230;, dan jika saatnya nanti Ibu Kau panggil, panggillah dalam keadaan khusnul khatimah. Ampunilah segala dosa-dosanya dan sayangilah ia sebagaimana ia menyayangi aku selagi aku kecil &#8221;</p>
<p><strong>&#8220;Titip Ibuku Yaa Allah&#8221;</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asfin.balikpapanweb.net/2009/02/titip-ibuku-yaa-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anjing Yang Rakus</title>
		<link>http://asfin.balikpapanweb.net/2008/11/anjing-yang-rakus/</link>
		<comments>http://asfin.balikpapanweb.net/2008/11/anjing-yang-rakus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Nov 2008 02:59:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asfin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Bijak]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asfin.balikpapanweb.net/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[sumber : Rachel &#8211; heartnsouls.com
Ada seekor anjing yang terasa bingung saking laparnya, seharian penuh tidak mendapatkan makanan.Saat senja tiba, akhirnya dengan penuh gairah ia melihat sepotong daging yang lezat di atas tanah,ia bergegas menggondol daging itu dan berlari ke tempat tinggalnya.
Dalam hati dia merenung
&#8220;sungguh beruntung sekali, di luar dugaan bisa mendapatkan daging besar ini, saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>sumber : Rachel &#8211; heartnsouls.com</p>
<p>Ada seekor anjing yang terasa bingung saking laparnya, seharian penuh tidak mendapatkan makanan.Saat senja tiba, akhirnya dengan penuh gairah ia melihat sepotong daging yang lezat di atas tanah,ia bergegas menggondol daging itu dan berlari ke tempat tinggalnya.</p>
<p>Dalam hati dia merenung<br />
&#8220;sungguh beruntung sekali, di luar dugaan bisa mendapatkan daging besar ini, saya harus menikmati dengan sepuasnya.&#8221;</p>
<p>Sambil berjalan ia berpikir, dan tanpa disadari tiba di sebuah sungai, jika sudah melewati jembatan kecil berarti tempat tinggalnya sudah dekat, berpikir sampai di situ ia lantas menggigit lebih erat lagi daging itu, dan berjalan di atas jembatan penyeberangan. Ia berjalan dengan sangat hati-hati, ketika sampai di tengah jembatan, tanpa sengaja ia memandang ke sungai, dan begitu melihat ke sungai bukan main kagetnya, ia melihat ada seekor anjing di sungai itu, menggondol sepotong daging yang besar dan sedang menatapnya.</p>
<p><span id="more-27"></span></p>
<p>Dalam hati ia mulai berpikir<br />
&#8220;wah, daging yang digondolnya itu tampaknya lebih besar dibanding daging saya ini!<br />
Jika saya sedikit lebih galak terhadapnya, siapa tahu mungkin ia akan melepaskan daging itu dan lari!&#8221;</p>
<p>Makin dipikir ia semakin gembira, lalu mulai galak terhadap anjing di sungai itu. Namun, anehnya, anjing itu sepertinya tidak takut sedikit pun terhadapnya. Ia memelototkan mata, dan anjing itu juga memelototkan matanya; ia berbalik, anjing itu juga berbalik, ia menghentakkan kaki, anjing itu juga ikut menghentakkan kakinya.</p>
<p>Akhirnya, ia benar-benar marah, dalam hati berpikir<br />
&#8220;lebih baik aku menggigitnya, ia pasti akan lari, dengan begitu aku bisa mendapatkan daging itu,&#8221;<br />
lalu, ia membuka moncongnya dan menggonggong dengan keras &#8220;Auh. auh.auh&#8230;&#8221;</p>
<p>Begitu ia membuka moncongnya, daging dalam gigitannya lalu tiba-tiba terjatuh ke sungai, menghancurkan tubuh anjing yang berada di sungai itu, dan dalam sekejap tenggelam di dalam air lenyap tak berbekas. Percikan air yang dalam menghancurkan semua mimpi si anjing yang rakus ini, dan ia baru menyadari bahwa ternyata anjing itu adalah bayangan dirinya dalam air.</p>
<p>Lalu dengan sedih ia menangis &#8220;kalau tahu begini aku tidak akan sedemikian rakus, namun kini, saya harus menahan lapar lagi, ke mana aku harus mencari makan?&#8221;</p>
<p>Banyak orang ingin bisa hidup dengan lebih baik, harus mendapatkan lebih banyak, maka disadari atau tidak dapat mencelakakan kepentingan orang lain, tidak puas dengan apa yang sudah diperolehnya. Bahkan ada yang tak segan-segan merampas barang milik orang lain. Anjing yang rakus ini demi untuk mendapatkan sepotong daging lebih banyak, malah kehilangan makanan lezatnya, lantas apa yang hilang pada manusia yang rakus?</p>
<p>Persaudaraan, persahabatan, hati nurani atau ketenangan hati?<br />
Ya, ini semua baru merupakan harta benda yang paling berharga dalam kehidupan!<br />
Hargailah semua yang kita miliki, tidak memaksakan sesuatu yang tidak bisa diperoleh, jangan karena rakus lantas malah kehilangan sesuatu yang sudah ada.</p>
<p>&#8220;Kalau memang milik kita, pasti akan kita miliki, kalau bukan jangan memaksakan kehendak&#8221;, orang yang tahu menikmati hidup apa adanya, itulah orang yang benar-benar kaya.</p>
<p>Cheers!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asfin.balikpapanweb.net/2008/11/anjing-yang-rakus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>E M P A T I</title>
		<link>http://asfin.balikpapanweb.net/2008/11/e-m-p-a-t-i/</link>
		<comments>http://asfin.balikpapanweb.net/2008/11/e-m-p-a-t-i/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Nov 2008 00:46:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asfin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Bijak]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asfin.balikpapanweb.net/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Sumber : Milis Manager Indonesia
By: Andy F Noya
Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji di kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap melayani. Padahal, jika mau, bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber : Milis Manager Indonesia<br />
By: Andy F Noya</p>
<p>Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji di kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.</p>
<p>Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.</p>
<p>Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari.<br />
Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada. Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya terlalu asyik menyantap makanan.</p>
<p><span id="more-23"></span></p>
<p>Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat, pemandangan tersebut menjadi istimewa.</p>
<p>Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas makanan.</p>
<p>Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah. Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.</p>
<p>Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan. Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang pelayan sekalipun.</p>
<p>Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga pernah melakukannya. Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah ke luar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.</p>
<p>Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita. Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit. Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya akan besar sekali bagi para pelayan restoran.</p>
<p>Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka. Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah di situ.</p>
<p>Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat. Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan.<br />
Keteladanan kecil yang berdampak besar.</p>
<p>Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya. Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang. Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.</p>
<p>Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku &#8220;Chicken Soup&#8221;, saya kerap membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti akan merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.</p>
<p>Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang di sekitarnya.</p>
<p>Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata &#8220;terima kasih&#8221; saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian.<br />
Menurut dia, kata &#8220;terima kasih&#8221; merupakan &#8220;magic words&#8221; yang akan membuat orang lain senang. Begitu juga kata &#8220;tolong&#8221; ketika kita meminta bantuan orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.</p>
<p>Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet, bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para supir kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. &#8220;Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?&#8221; Nasihat itu diperoleh istri saya dari sebuah tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat nasihat istri tersebut.</p>
<p>Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran.</p>
<p>Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah membayar, kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.</p>
<p>Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang yang membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.</p>
<p>Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain.<br />
Mulailah dari hal-hal kecil-kecil &#8230;<br />
Mulailah dari diri Anda lebih dulu &#8230;<br />
Mulailah sekarang juga &#8230;</p>
<p><strong></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asfin.balikpapanweb.net/2008/11/e-m-p-a-t-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SURAT UNTUK TUHAN</title>
		<link>http://asfin.balikpapanweb.net/2008/06/surat-untuk-tuhan/</link>
		<comments>http://asfin.balikpapanweb.net/2008/06/surat-untuk-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 16:27:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asfin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Bijak]]></category>
		<category><![CDATA[FuNnY ST0r13s]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asfin.balikpapanweb.net/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Seorang bocah yang sangat ingin melanjutkan sekolah,tetapi orang tuanya  tidak mempunyai uang untuk membiayai sekolahnya.Lagipula ibunya yang sedang  sakit membutuhkan biaya untuk membeli obat.
Akhirnya dia memutuskan  untuk menulis surat kepada Tuhan :
Kepada Yth
Tuhan
di Surga
Tuhan yang baik, saya mau melanjutkan sekolah, tapi orang tua saya tidak  punya uang.
Ibu saya juga sedang sakit, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang bocah yang sangat ingin melanjutkan sekolah,tetapi orang tuanya  tidak mempunyai uang untuk membiayai sekolahnya.Lagipula ibunya yang sedang  sakit membutuhkan biaya untuk membeli obat.</p>
<p>Akhirnya dia memutuskan  untuk menulis surat kepada Tuhan :</p>
<p>Kepada Yth<br />
Tuhan<br />
di Surga</p>
<p>Tuhan yang baik, saya mau melanjutkan sekolah, tapi orang tua saya tidak  punya uang.<br />
Ibu saya juga sedang sakit, mau beli obat.<br />
Tuhan saya butuh  uang Rp 20.000 utk beli obat ibu, Rp 20.000 untuk membayar uang sekolah,  Rp 10.000 untuk membayar uang seragam, dan uang buku Rp 10.000. Jadi  semuanya Rp 60.000</p>
<p>Terima kasih Tuhan, saya tunggu kiriman uangnya.<br />
Dari : Rio.</p>
<p>Rio pun pergi ke kantor pos untuk mengirim suratnya.  Membaca tujuan surat tersebut, petugas kantor pos merasa iba melihat Rio,  sehingga tidak tega mengembalikan suratnya.</p>
<p>Bingung mau di kemanain  surat itu, akhirnya petugas pos itu menyerahkannya ke kantor polisi  terdekat. Membaca isi surat itu, Komandan polisi merasa iba dan tergerak  hatinya utk menceritakan hal tsb kepada anak buahnya. Walhasil, para polisi pun  mengumpulkan dana utk di berikan ke Rio, tetapi dana yang terkumpul hanya Rp  55.000,-</p>
<p>Sang Komandan pun memasukan uang yang terkumpul ke dalam  amplop, menuliskan<br />
keterangan : &#8221; Dari Tuhan di Surga &#8221; dan menyerahkan ke  anak buahnya  utk di kembalikan ke Rio.<br />
Menerima uang tsb, Rio merasa sangat  senang permintaannya terkabul, walaupun yang di terima hanya Rp 55.000,-.  Rio pun bergegas mengambil kertas dan pensil, dan mulai menulis surat lagi :<br />
<strong><em>&#8220;TUHAN LAIN KALI KALO MAU KIRIM UANG, JANGAN LEWAT POLISI,<br />
KARENA KALO LEWAT POLISI DI POTONG RP 5.000,-&#8221;<img src="http://o.aolcdn.com/cdn.webmail.aol.com/resources/core/images/cry.gif" alt=":" width="19" height="19" /><br />
</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asfin.balikpapanweb.net/2008/06/surat-untuk-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

