<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Asfin Nge-Blog &#187; anak</title>
	<atom:link href="http://asfin.balikpapanweb.net/tag/anak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://asfin.balikpapanweb.net</link>
	<description>Uneg Uneg dan Isi Pikiran</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Dec 2011 08:56:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Titip Ibuku Yaa ALLAH&#8230;&#8230;&#8230;</title>
		<link>http://asfin.balikpapanweb.net/2009/02/titip-ibuku-yaa-allah/</link>
		<comments>http://asfin.balikpapanweb.net/2009/02/titip-ibuku-yaa-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Feb 2009 04:28:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asfin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Bijak]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Umum]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bijak]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[child]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua]]></category>
		<category><![CDATA[parent]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asfin.balikpapanweb.net/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[&#8221; Nak, bangun&#8230; udah adzan subuh. Sarapanmu udah ibu siapin di meja&#8230;&#8221;
Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat. Kini usiaku sudah kepala 3 dan aku jadi seorang karyawan disebuah Perusahaan Pertambangan, tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah.
&#8221; Ibu sayang&#8230; ga usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku udah dewasa&#8221; pintaku pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8221; Nak, bangun&#8230; udah adzan subuh. Sarapanmu udah ibu siapin di meja&#8230;&#8221;<br />
Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat. Kini usiaku sudah kepala 3 dan aku jadi seorang karyawan disebuah Perusahaan Pertambangan, tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah.</p>
<p>&#8221; Ibu sayang&#8230; ga usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku udah dewasa&#8221; pintaku pada Ibu pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Pun ketika Ibu mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya. Ingin kubalas jasa Ibu selama ini dengan hasil keringatku.<br />
<span id="more-112"></span><br />
Raut sedih itu tak bisa disembunyikan. Kenapa Ibu mudah sekali sedih ?<br />
Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena dari sebuah artikel yang kubaca &#8230;<br />
orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak &#8230;..<br />
tapi entahlah&#8230;.<br />
Niatku ingin membahagiakan malah membuat Ibu sedih. Seperti biasa, Ibu tidak akan pernah mengatakan apa-apa</p>
<p>Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya,</p>
<p>&#8221; Bu, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan Ibu. Apa yang bikin Ibu sedih ? &#8221;<br />
Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada genangan air mata di sana. Terbata-bata Ibu berkata,</p>
<p>&#8221; Tiba-tiba Ibu merasa kalian tidak lagi membutuhkan Ibu. Kalian sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kalian, Ibu tidak bisa lagi jajanin kalian. Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri &#8221;</p>
<p>Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan.</p>
<p>Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.<br />
Diam-diam aku bermuhasabah. ..<br />
Apa yang telah kupersembahkan untuk Ibu dalam usiaku sekarang ?<br />
Adakah Ibu bahagia dan bangga pada putera putrinya ?<br />
Ketika itu kutanya pada Ibu, Ibu menjawab,</p>
<p>&#8221; Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Ibu. Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan. Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ibu. Kalian berprestasi di pekerjaan adalah kebanggaan buat Ibu. Setelah dewasa, kalian berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat Ibu. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua.&#8221;</p>
<p>Lagi-lagi aku hanya bisa berucap, &#8221; Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada Ibu. Masih banyak alasan ketika Ibu menginginkan sesuatu. &#8221;<br />
Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang wanita karier seharusnya banyak alasan<br />
yang bisa dilontarkan Ibuku untuk &#8220;cuti&#8221; dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu.<br />
Tapi tidak! Ibuku seorang yang idealis. Menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3 dinihari Ibu bangun dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh Ibu ke dapur menyiapkan sarapan<br />
sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi&#8230;<br />
Ah, maafin kami Ibu &#8230; 18 jam sehari sebagai &#8220;pekerja&#8221; seakan tak pernah membuat Ibu lelah..<br />
Sanggupkah aku ya Allah ?</p>
<p>&#8221; Nak&#8230; bangun nak, udah azan subuh .. sarapannya udah Ibu siapin dimeja.. &#8221;<br />
Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul Ibu sehangat mungkin,kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan,</p>
<p>&#8221; Terimakasih Ibu, aku beruntung sekali memiliki Ibu yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan Ibu&#8230;&#8221;.<br />
Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. ..<br />
Cintaku ini milikmu, Ibu&#8230;<br />
Aku masih sangat membutuhkanmu. ..<br />
Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..</p>
<p>Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat&#8221;aku sayang padamu&#8230; &#8220;,</p>
<p>namun begitu, Rasulullah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai karena Allah.</p>
<p>Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita &#8230;<br />
Ibu dan ayah walau mereka tak pernah meminta dan mungkin telah tiada. Percayalah.. . kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia.</p>
<p>Wallaahua&#8217;lam &#8230;</p>
<p>&#8220;Ya Allah, cintai Ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan ibu&#8230;, dan jika saatnya nanti Ibu Kau panggil, panggillah dalam keadaan khusnul khatimah. Ampunilah segala dosa-dosanya dan sayangilah ia sebagaimana ia menyayangi aku selagi aku kecil &#8221;</p>
<p><strong>&#8220;Titip Ibuku Yaa Allah&#8221;</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asfin.balikpapanweb.net/2009/02/titip-ibuku-yaa-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Biarkan Anak Kecil naik Bus</title>
		<link>http://asfin.balikpapanweb.net/2008/06/jangan-biarkan-anak-kecil-naik-bus/</link>
		<comments>http://asfin.balikpapanweb.net/2008/06/jangan-biarkan-anak-kecil-naik-bus/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 16:33:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asfin</dc:creator>
				<category><![CDATA[FuNnY ST0r13s]]></category>
		<category><![CDATA[Topik Umum]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[balikpapan]]></category>
		<category><![CDATA[bus]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[funny]]></category>
		<category><![CDATA[ketawa]]></category>
		<category><![CDATA[lucu]]></category>
		<category><![CDATA[stories]]></category>
		<category><![CDATA[story]]></category>
		<category><![CDATA[tawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asfin.balikpapanweb.net/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari, seorang ibu mengantar anaknya yang baru  berusia 5 tahun, naik bis jurusan Surabaya-Denpasar. Ibu berpesan pada pak  supir,
Ibu : &#8220;Pak, titip anak saya ya. Nanti kalo sampe di Banyuwangi,  tolong kasih tau anak saya. &#8216;Ma kasih ya&#8230;&#8221;
Sepanjang perjalanan, si  anak cerewet sekali. Sebentar-sebentar ia bertanya pada penumpang di sekitarnya,
Anak: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="post_message_17269">Suatu hari, seorang ibu mengantar anaknya yang baru  berusia 5 tahun, naik bis jurusan Surabaya-Denpasar. Ibu berpesan pada pak  supir,</p>
<p>Ibu : &#8220;Pak, titip anak saya ya. Nanti kalo sampe di Banyuwangi,  tolong kasih tau anak saya. &#8216;Ma kasih ya&#8230;&#8221;</p>
<p>Sepanjang perjalanan, si  anak cerewet sekali. Sebentar-sebentar ia bertanya pada penumpang di sekitarnya,</p>
<p>Anak: &#8220;Mas, udah sampe Banyuwangi belom?&#8221;</p>
<p>Hari mulai malam dan  anak itu masih terus bertanya-tanya. Salah satu penumpang menjawab,</p>
<p>Penumpang: &#8220;Belom, nanti kalo sampe dibangunin deh! Kamu tidur aja  dulu!&#8221;</p>
<p>Tapi si anak tidak mau diam, belakangan dia sampai maju ke depan  dan bertanya pada supir untuk kesekian kalinya,</p>
<p>Anak: &#8220;Pak, udah sampe  Banyuwangi belom?&#8221;</p>
<p>Pak Supir yang sudah lelah dengan pertanyaan itu  menjawab,</p>
<p>Sopir : &#8220;Belom! Tidur aja deh! Nanti kalo sampe Banyuwangi  pasti dibangunin!&#8221;</p>
<p>Kali ini, si anak tidak bertanya lagi, ia tertidur  pulas sekali. Karena suara si anak tidak terdengar lagi, semua orang di dalam  bis lupa pada si anak, sehingga ketika melewati Banyuwangi, tidak ada yang membangunkannya. Bahkan sampai menyeberangi selat Bali dan sudah mendarat di  Ketapang, Bali, si anak masih tertidur dan tidak bangun-bangun. Tiba-tiba si  supir sadar bahwa ia lupa membangunkan si anak. Lalu ia bertanya pada para  penumpang,</p>
<p>Sopir: &#8220;Bapak-ibu, gimana nih, kita anter balik gak anak  ini?&#8221;</p>
<p>Para penumpang pun merasa bersalah karena ikut melupakan si anak  dan setuju mengantar si anak kembali ke Banyuwangi. Maka kembalilah rombongan  bis itu menyeberangi Selat Bali dan mengantar si anak ke Banyuwangi.</p>
<p>Sesampai di Banyuwangi, si anak dibangunkan.</p>
<p>Sopir: &#8220;Nak! Udah  sampe Banyuwangi nih! Ayo bangun!&#8221;</p>
<p>Anak (bangun): &#8220;Ohh, udah sampe ya!&#8221;</p>
<p>Lalu anak itu membuka tasnya dan mengeluarkan kotak makanannya. Seluruh  penumpang bingung.</p>
<p>Sopir (bingung): &#8220;Bukannya kamu mau turun di  Banyuwangi?&#8221;</p>
<p>Anak : &#8220;Nggak tuh&#8230; kata Mama, kalo udah sampe Banyuwangi,  saya boleh makan nasi kotaknya!&#8221;</p></div>
<p><!-- / message --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asfin.balikpapanweb.net/2008/06/jangan-biarkan-anak-kecil-naik-bus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

